Allah
itu Ada
Kata Karl Marx, bapak
komunisme, tuhan tidaklah menciptakan manusia, tapi manusialah yang menciptakan
tuhan. Ia adalah khayalan manusia, kata Karl Marx. Sebegitu hebatnya khayalan
manusia, akhirnya manusia menjadi percaya bahwa tuhan itu ada. Demikian
ringkasnya pendapat Marx tentang manusia dan tuhan.
Kalau demikian, dalam
pikiran Karl Marx, tuhan itu tidak ada bedanya dengan Superman, Spiderman
bahkan bisa jadi Dora Emon. Jagoan-jagoan dunia khayal yang sudah seolah-olah
nyata. Buktinya ada kan
orang yang begitu terkesannya sama si manusia Krypton sampai akhirnya
menjadikannya sebagai idola (bayangkan, tokoh kartun jadi idola!). Sama juga
dengan sejumlah remaja putri seumurmu yang memimpikan jadi pacarnya Dao Ming
She, satu lakon di serial Meteor
Garden . Padahal si kasep
berambut shaggy ini kan
fiktif. Cuma khayalan.
Nggak usahlah kita
membahas Marxisme yang njlimet itu sehingga membuat orang pusing (malah
dengan kurang ajar Marx bilang kalau agama itu adalah candu), yang sebenarnya
jauh dari kebenaran. Tapi yang memprihatinkan saya dan kita semua adalah di
zaman milenium ini, nggak sedikit remaja yang makin tidak peduli apakah tuhan
itu ada atau tidak. Malah ada juga yang dengan bangga bilang, “I don’t
believe in God. I am atheist.” Na’udzubillahi min dzalik.
Memang benar Tuhan atau
yang kita sebut Allah, adalah Zat yang nggak keliatan oleh mata kita, nggak
terdengar gerakannya atau suaranya oleh telinga kita, dan tidak teraba ZatNya
oleh kulit kita. But, karena tidak terindera, bukan berarti Ia itu tidak
ada, apalagi kalau lantas kita bilang Ia adalah khayalan (Mahasuci Allah dari
segala yang manusia sifatkan padaNya). Soalnya, untuk mengenal dan mengetahui
sesuatu itu ada nggak selamanya kita harus mengindera secara langsung. Banyak
bukti untuk itu.
Kawan, untuk mengetahui dan percaya bahwa gravitasi
bumi itu ada nggak mesti kan
kita melihat dan meraba ‘zat’nya? Cukup dengan melihat setiap benda jatuh ke
bawah setiap orang pasti percaya kalau gaya
tarik bumi itu ada. Begitu pula untuk percaya bahwa kita kena virus flu tidak
mesti kita melihat bentuknya, cukuplah dengan merasakan badan kita demam,
kepala pusing, hidung berlendir, dan kita mulai batuk-batuk.
Untuk percaya bahwa Sang Maha Pencipta itu ada, juga
nggak mesti kita mengindera ZatNya. Karena Allah SWT. telah memberikan berbagai
macam bukti bahwa Ia itu eksis, ada, yaitu lewat mahluk ciptaanNya. Kalau ada
yang diciptakan (mahluk) pastinya ada yang menciptakannya (Al Khaliq).
Sederhana, bukan?
Ya, perhatikanlah dengan seksama sekeliling kita, maka
kita nggak bakalan bisa membantah kalau Allah itu ada. Apalagi seluruh benda
yang ada di alam semesta ini – termasuk kita, manusia – memiliki kesempurnaan
dan keteraturan yang luar biasa. Dalam Al Qur’an Allah SWT. berfirman:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia
diciptakan,”(TQS. Al Ghasiyyah [88]:17).
Coba perhatikan, unta
itu adalah hewan yang kuat berjalan bermil-mil. Unta memiliki kelasa atau punuk
yang berisi air dan makanan, yang akan terkulai ke samping bila persediaan air
dan makanan di dalamnya habis. Biasanya, sebelum perjalanan pemilik unta
menyuruh hewan peliharaannya itu untuk meminum air sebanyak-banyaknya. Caranya,
minuman tersebut dicampur garam sehingga begitu meminumnya akan terus merasa
haus dan banyak minum. Volume air yang dapat diminum unta dapat mencapai 15
galon (kurang lebih 56 liter) air.
Unta mempunyai tiga
perut; perut samping, perut kelenjar pencerna dan perut penyerap. Pada
dinding-dinding perut pertama dan kedua merupakan kantung-kantung penyimpan air
dan pencerna makanan. Bila si penunggang unta kehabisan bekal air, unta akan
disembelih untuk diambil simpanan air di kantungnya tersebut. Sedang perut
ketiga menyerap hasil pengolahan makanan yang dicerna kedua perut lainnya. Subhanallah!
Allah SWT. juga berfirman:
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu
tiada memperhatikan?”(TQS. Adz Dzariyat [51]:21).
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya.”(TQS. At Tiin [95]:4).
Lihatlah manusia. Kita
adalah ‘mesin bologis’ yang menakjubkan. Manusia itu hidup dengan jantung.
Menurut ilmu kedokteran jantung manusia itu memompa darah 2.200 galon setiap
harinya, berarti 8.030.000 galon dalam setahun. Padahal besarnya hanya
segenggaman tangan dengan berat 225 dan 340 gram. Jantung kita juga berdenyut
lebih dari 70 kali setiap menitnya atau 4200 kali perjam, 100.800 perhari dan
36.792.000 dalam setahun. Nah, apa ada pompa selain jantung yang dapat bekerja
seberat itu dengan tanpa perawatan dan pergantian suku cadang? Subhanallah.
Menurut ilmu kimia,
garam yang setiap hari kita makan entah itu dalam sayur asem, rujak atau bakso,
memiliki rumus NaCl (Natrium Chlorida). Apakah kamu tahu bahwa garam yang aman
untuk dikonsumsi itu sebenarnya terdiri dari dua unsur yang sebenarnya
berbahaya. Logam Natrium adalah basa kuat yang bisa merusak kayu, kertas dan
tubuh manusia. Bila direaksikan dengan air ia akan mengikat ion –OH
dari air menjadi NaOH (Natrium Hidroksida) yang merupakan basa kuat dan
melepaskan gas H2 (hidrogen) yang mudah terbakar. Sedangkan klorida
di alam bebas itu ada yang berupa gas klorida Cl2 yang dijamin ampuh
mencabut nyawa bila sampai mengisi paru-paru mahluk hidup.
Tapi kawan, dengan sangat ‘ajaib’ dua unsur yang
mematikan itu bila bersenyawa malah jadi bahan penyedap makanan yang sering
kamu bilang garam dapur. Sampai-sampai kamu bisa bilang, makan tanpa garam,
mana enak?
Nah, pertanyaannya, apakah mungkin terbentuk berbagai
macam kenikmatan hidup ini dan keteraturan alam semesta – seperti struktur unta
si penjelajah gurun, jantung manusia dan garam dapur yang nikmat – tanpa ada
yang menciptakannya dan merekayasanya? Pastinya alam semesta tidak bisa bekerja
secara otomatis, seperti halnya badan kita nggak akan bisa bekerja tanpa
komando dari akal. Dan siapa yang mampu menggerakkan seluruh alam semesta ini
kalau bukan ‘sesuatu’ yang bernama Tuhan. Albert Einstein, fisikawan terkemuka
sampai mengatakan, “Tuhan tidak bermain-main dengan alam semesta.”
Allah itu ada. Ia bukan tokoh khayalan. Allah juga
bukan mitos macam Hercules, Zeus atau dewa-dewa dari dunia pewayangan, apalagi
kalau disejajarkan dengan Sun Go Kong kera sakti yang bisa mengacak-acak
nirwana. Mahasuci Allah dari segala perkara yang mereka sifatkan padaNya.
Tidak susah mencari Allah, kekuasaanNya ada di
mana-mana. Dengan sesuatu yang amat sederhana pun manusia yang sehat akalnya
dan ikhlas hatinya dapat membuktikan kalau Allah itu ada. Untuk beriman padaNya
tidak mesti menjadi seorang jenius seperti Einstein. Maka, tidak usah berpusing-pusing
dengan ucapan Karl Marx yang nggak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya di
dunia, apalagi di akhirat. Toh, tanpa perlu persetujuan gembong komunisme itu
Allah sudah pasti ada, iya kan ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar